AKSI KORPORASI
Penawaran Umum
Jumlah
Penawaran Umum pada tahun 2002 adalah 20
Penawaran Umum Saham Perdana, 12 Penawaran
Umum Saham dengan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu, dan 12 Penawaran Umum
Obligasi. Jumlah ini menunjukkan penurunan
dibandingkan dengan tahun 2001, yaitu 31
Penawaran Umum Saham Perdana, 13 Penawaran
Umum Saham dengan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu, dan enam Penawaran Umum
Obligasi.
Penurunan ini tidak
terlepas dari kondisi perekonomian baik
domestik maupun internasional yang sedang
suram. Berbagai peristiwa di luar negeri,
seperti serangan terhadap gedung WTC di
akhir tahun 2001 dan skandal-skandal
korporasi, dan berbagai peristiwa di dalam
negeri, seperti sweeping warga asing dan
peristiwa pengeboman Bali di penghujung
tahun 2002, merupakan hal yang sangat
tidak mendukung perkembangan Pasar Modal
Indonesia. Dengan kondisi keamanan yang
kurang kondusif tersebut, kepercayaan
investor untuk menanamkan investasinya
pada Pasar Modal Indonesia ikut
terpengaruh.
Terlepas dari penurunan
ini, terdapat fenomena menarik yang
mewarnai perkembangan Pasar Modal
Indonesia di tahun 2002. Fenomena ini
adalah berlanjutnya trend UKM memasuki
Pasar Modal Indonesia. Pada tahun 1999
terdapat hanya satu perusahaan menengah
kecil melakukan penawaran umum saham
perdana, pada tahun 2000 terdapat enam
perusahaan, pada tahun 2001 jumlah ini
meningkat sangat drastis menjadi 16
perusahaan, dan pada tahun 2002 turun
menjadi delapan perusahaan. Meskipun pada
tahun 2002 jumlah ini menurun dibandingkan
tahun lalu, namun jumlahnya masih lebih
besar dibandingkan tahun 2000. Dapat
disimpulkan, trend pertumbuhan jumlah
perusahaan menengah kecil yang menarik
dana dari pasar modal dalam tiga tahun
terakhir menunjukan grafik yang meningkat.
Mengingat perusahaan kecil
umumnya memiliki struktur permodalan yang
kuat dimana hutang-hutangnya tidak
didominasi dengan mata uang asing, maka
trend yang meningkat ini merupakan hal
yang sangat positif bagi perkembangan
Pasar Modal Indonesia untuk menuju pasar
yang sehat dan kompetitif.
Restrukturisasi hutang
Selama tahun 2002 ini
tercatat beberapa perusahaan masih
mengalami kesulitan dalam memenuhi
kewajibannya sehingga mereka harus
melakukan restrukturisasi atas
hutang-hutangnya yang telah jatuh tempo.
Namun demikian, terdapat
satu hal yang menggembirakan dari
perkembangan restrukturisasi hutang
emiten/perusahaan publik pada tahun 2002
ini. Hal tersebut adalah semakin banyaknya
emiten/perusahaan publik yang telah
berhasil menyelesaikan restrukturisasinya.
Tercatat beberapa emiten dengan hutang di
atas USD1 milyar, seperti PT Bakrie &
Brothers Tbk, PT Gajah Tunggal Tbk, PT
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Semen
Cibinong Tbk dan PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk telah berhasil
merestrukturisasi hutang-hutang mereka.
Terdapat beberapa instrumen
pasar modal yang dapat digunakan
Emiten/Perusahaan Publik untuk
merestrukturisasi hutang mereka.
Berdasarkan data Bapepam, dari 10 emiten
yang melakukan penawaran umum saham dengan
Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, terdapat
dua emiten yang melakukannya dalam rangka
restrukturisasi hutang. Selain itu
terdapat lima emiten yang melakukan
Penawaran Umum Tanpa Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu.
Dalam melakukan
restrukturisasi hutang-hutang mereka,
Emiten/Perusahaan Publik sering kali harus
melakukannya dengan BPPN. Hal ini terjadi
karena bank-bank kreditur mereka telah
masuk ke dalam program penyehatan BPPN,
sehingga BPPN lah yang kemudian menjadi
kreditur mereka. Untuk memperlancar proses
restrukturisasi Emiten/Perusahaan Publik
yang dilakukan dengan BPPN ini, pada bulan
Juli 2002, Bapepam dan BPPN telah
membentuk tim kerja guna menginvetarisasi
dan menyelesaikan masalah-masalah BPPN
yang berkaitan dengan pasar modal.
Selain berhubungan dengan BPPN, dalam
merestrukturisasi hutangnya, beberapa
Emiten/Perusahaan Publik juga memanfaatkan
fasilitas Satuan Tugas Prakarsa Jakarta
(STPJ). STPJ merupakan lembaga yang
dibentuk pemerintah guna membantu
perusahaan-perusahaan merestrukturisasi
hutang mereka. Sejak berdirinya sampai
dengan saat ini, STPJ telah memfasilitasi
restrukturisasi 52
Emiten/Perusahaan Publik.
Sebanyak
42
diantaranya telah menyelesaikan
restrukturisasi hutang mereka dan 10
Emiten/Perusahaan Publik lainnya sedang
dalam tahap proses dan finalisasi.
Salah satu hal yang
mendapat perhatian khusus pada tahun 2002
ini adalah adanya beberapa kasus gagal
bayar (default) atas obligasi yang telah
diterbitkan oleh emiten, baik gagal bayar
atas kupon bunga yang masih harus dibayar
maupun atas kegagalan pelunasan hutang
obligasi yang telah jatuh tempo.
Tercatat 12 emiten mengalami default atas
pembayaran kupon bunga.
Dari jumlah tersebut
11 emiten
mengalami default atas pembayaran pokoknya.
Penyebab utama terjadinya gagal bayar yang
dialami emiten adalah adanya kesulitan
likuiditas yang dialami emiten sehubungan
dengan krisis ekonomi yang belum membaik.
Saat ini seluruh emiten tersebut sedang
dalam proses restrukturisasi
Penawaran Tender
Penawaran
Tender merupakan tindakan yang terbalik
dari penawaran umum saham. Pada penawaran
umum saham, penawaran yang dilakukan
adalah penawaran jual, sehingga keputusan
pemodal adalah keputusan untuk membeli
atau tidak membeli saham. Sebaliknya, pada
penawaran tender, penawaran yang dilakukan
adalah penawaran untuk membeli saham,
sehingga keputusan pemegang saham adalah
keputusan untuk menjual atau tidak menjual
saham. Beberapa perusahaan yang sahamnya
telah dibeli pihak tertentu melalui
penawaran tender adalah, PT Darya Varia
Tbk., PT Bank Danpac Tbk. dan PT Alfa
Retailindo Tbk.
Akuisisi
Akuisisi terhadap Emiten/
Perusahaan Publik dilakukan dengan dua
cara, yaitu melalui penawaran tender dan
melalui konversi hutang menjadi saham.
Beberapa emiten yang diakuisisi melalui
penawaran tender adalah PT Medco Energy
International Tbk dan PT Sumalindo Lestari
Jaya Tbk.
Sedangkan Emiten
/
Perusahaan Publik yang diakuisisi melalui
proses konversi hutang menjadi saham
antara lain, PT Adindo Forestra Indonesia
Tbk. yang diakuisisi oleh Traffon
Investment Private Ltd dan Bazehill
International Ltd, PT Citatah Tbk,
PT Sekar Laut Tbk
dan PT Japfaa Comfeed diakuisisi oleh
sindikasi kreditor mereka.
Di samping itu,
terdapat beberapa Emiten/Perusahaan Publik
yang melakukan akuisisi terhadap
perusahaan lain. Pada tahun 2002, beberapa
Emiten/Perusahaan Publik yang melakukan
akuisisi terhadap perusahaan lain adalah
PT Tirta Mahakam Plywood Industry Tbk dan
PT Sigmantara Alfindo Tbk. PT Tirta
Mahakam mengakuisisi PT Windu Nabatindo
Lestari, sedangkan PT Sigmantara Alfindo
Tbk melakukan akuisisi terhadap PT Alfa
Retailindo Tbk. Akuisisi yang dilakukan
oleh kedua perusahaan tersebut merupakan
akuisisi terhadap pihak yang sebelumnya
tidak memiliki hubungan afiliasi.
Merger
Merger merupakan
penggabungan dua atau lebih perusahaan
dimana satu perusahaan yang bergabung
tetap hidup sedangkan perusahaan lainnya
dilikuidasi. Selama tahun 2002,
Emiten/Perusahaan Publik yang melakukan
merger antara lain adalah PT Indomobil
Sukses International Tbk, PT Sarasa
Nugraha Tbk, PT Pfizer Indonesia Tbk, PT
Bank Danpac Tbk, dan PT Bank Bali Tbk.
PT Indomobil Sukses
International Tbk melakukan merger dengan
anak perusahaannya, yaitu PT Sumber Artha
Perdana dan PT Indosentral Binatrada. PT
Sarasa Nugraha Tbk juga melakukan merger
dengan anak perusahaan, yaitu PT Sarasa
Mitratama. Adapun merger PT Pfizer
Indonesia Tbk dilakukan dengan PT Warner
Lambert, merupakan kelanjutan dari
rangkaian merger yang telah dilakukan
induk kedua perusahaan tersebut.
Di bidang perbankan,
tercatat dua buah bank publik yang
mayoritas sahamnya dimiliki Chinkara
Capital Limited, yaitu PT Bank Danpac Tbk
dengan PT Bank Pikko Tbk melakukan merger.
Dari merger ini PT Bank Danpac Tbk menjadi
surviving company. Di samping itu,
terdapat juga merger yang dilakukan oleh
lima bank; PT Bank Bali Tbk, PT Bank
Universal Tbk, PT Bank Arthamedia, PT Bank
Patriot dan PT Bank Prima Express di mana
dari merger tersebut terbentuk satu
perusahaan baru yakni PT Bank Permata Tbk.
Merger tersebut dilakukan dalam rangka
program penyehatan perbankan yang
dilakukan oleh BPPN.
Pembelian Kembali Saham
Beberapa
Emiten/Perusahaan Publik yang melakukan
pembelian kembali saham tahun ini antara
lain adalah PT Dynaplast Tbk, PT HM
Sampoerna Tbk, PT Indofood Sukses Makmur
Tbk., PT Metrodata Elektronik Tbk, PT
Matahari Putra Prima Tbk dan PT Panin
Insurance Tbk. Alasan utama dilakukannya
pembelian kembali saham oleh
emiten/perusahaan publik adalah untuk
meningkatkan harga saham emiten-emiten
tersebut.
Go Private
Go Private adalah perubahan
status perusahaan dari perusahaan terbuka
menjadi perusahaan tertutup. Beralihnya
status ini ditandai dengan disetujuinya
akta persetujuan pemegang saham tentang
perubahan anggaran dasar tersebut oleh
Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia.
Pada tahun 2002, beberapa
Emiten/Perusahaan Publik yang berubah
menjadi perusahaan tertutup antara lain
adalah PT Miwon Indonesia Tbk, PT Pfizer
Indonesia Tbk, dan PT Indocopper Investama
Tbk.
Bagi Bapepam, hal utama
yang diperhatikan dalam go private adalah
perlindungan terhadap investor publik.
Karena itu, untuk melakukan go private
ini pihak yang melakukan pembelian saham
wajib melakukan penawaran tender.
Perlindungan yang didapat melalui
ketentuan penawaran tender tersebut adalah
dalam hal harga saham, dan adanya
kesempatan yang sama bagi semua pemegang
saham publik untuk menjual saham yang
dimilikinya.
Stock Split/Reverse Stock
Selama tahun 2002, beberapa
Emiten/Perusahaan Publik yang telah
melakukan stock split antara lain PT Bank
Buana Indonesia Tbk, PT Mustika Ratu Tbk,
PT Jaka Artha Graha Tbk, PT Jakarta
International Hotel & Development Tbk, dan
PT Summarecon Agung Tbk. Selain itu
terdapat pula dua Emiten yang melakukan
reverse stock yaitu PT Pembangunan Graha
Lestari Indah Tbk dan PT Bank Lippo Tbk
Transaksi Material/Benturan Kepentingan
Selama tahun 2002, beberapa
Emiten/Perusahaan Publik yang melakukan
transaksi material antara lain adalah PT
Bimantara Citra Tbk, PT Jakarta Setiabudi
Internasional Tbk, PT Berlian Laju Tanker
Tbk, PT Panasia Filament Inti Tbk, PT
Panasia Indosyntec Tbk, PT Indonesia Prima
Property Tbk, PT Indomobil Sukses
international Tbk, PT Indosat Tbk., PT
Procter & Gamble Tbk dan PT Smart
Corporation Tbk. Dari transaksi material
tersebut, beberapa yang mengandung
benturan kepentingan antara lain adalah
transaksi material yang dilakukan oleh PT
Bimantara Citra Tbk, PT Jakarta Setiabudi
Internasional Tbk,
PT Berlian Laju Tanker Tbk,
PT Panasia Filament Inti
Tbk, PT Panasia Indosyntec Tbk, PT
Indomobil Sukses international Tbk,
PT Indosat Tbk,
PT Procter & Gamble Tbk dan PT Smart
Corporation Tbk.
Perubahan Kegiatan Usaha/
Penghentian Lini Usaha Emiten atau
Perusahaan Publik
Beberapa
emiten/perusahaan publik yang melakukan
perubahan kegiatan usaha/penghentian lini
usaha adalah PT Asiana Internasional Tbk.,
PT Astra Internasional Tbk. dan PT
Infoasia Teknologi Tbk. PT Asiana
International Tbk. melakukan perubahan
kegiatan usaha utama, dari produsen mainan
anak-anak menjadi penghasil barang-barang
komoditas. PT Astra Internasional menjual
sahamnya di PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk.
dan PT Infopasia Global Tbk. menjual
divisi portalnya.
Privatisasi BUMN
Privatisasi PT Bukit Asam
Tbk telah menambah lagi deretan BUMN yang
masuk ke pasar modal. Masuknya BUMN ke
pasar modal merupakan hal yang sangat
positif baik bagi perkembangan Pasar Modal
Indonesia, bagi BUMN yang bersangkutan,
maupun bagi perekonomian Indonesia secara
keseluruhan.
Bagi pasar modal, masuknya
BUMN memberikan kontribusi yang besar
dalam hal peningkatan indeks harga saham
gabungan, peningkatan nilai kapitalisasi
pasar dan jumlah saham beredar. Bagi BUMN
yang bersangkutan, pasar modal memberikan
manfaat dalam peningkatan efisiensi
perusahaan. Hal ini karena prinsip-prinsip
good corporate governance yang terkandung
dalam peraturan-peraturan Bapepam sangat
membantu tercapainya tingkat efisiensi
yang lebih baik. Semua ini pada akhirnya
akan membantu meningkatkan perekonomian
Indonesia secara keseluruhan.
|