Pidato
Welcome to Bapepam online

ENGLISH I sitemap I search I pertanyaan

.
statistik mingguan pasar modalperaturan Bapepamdatabase Bapepame-Report Pasar Modalhome

 

 

 

 

 

Pidato

 

 

 

Keynote Speech*)
oleh:  Herwidayatmo
**)


*)disampaikan dalam Seminar Sehari dengan thema “Mortgage Bank: Salah Satu Solusi Pembiayaan Perumahan”, Ball Room Kempinski Hotel – Jakarta, 19 Maret 2002.
**)Ketua Badan Pengawas Pasar Modal – Departemen Keuangan RI selaku Pjs. Direktur Jenderal Lembaga Keuangan.

 

 

Yth.    -   Para Panelis dan Moderator; serta

          -   Bapak-bapak, dan Ibu-ibu peserta Seminar sekalian yang berbahagia

 

Assalammualaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh,

Salam Sejahtera dan Selamat Pagi,

 

Pertama-tama mungkin perlu Saya sampaikan di sini bahwa sesuai dengan yang telah diagendakan pihak penyelenggara, sedianya yang akan menyampaikan Sambutan dalam acara ini adalah Bapak Menteri Keuangan sendiri. Namun berhubung adanya keperluan lain yang sifatnya sangat urgen dan mendadak, maka dengan tidak mengurangi pentingnya materi penyelenggaraan Seminar hari ini, beliau menugaskan Saya selaku Pejabat Sementara atau Pjs. dari Direktur Jenderal Lembaga Keuangan, untuk menggantikan beliau dalam memberikan kata Sambutan dalam Seminar pada pagi ini.

Saya sempat membaca sekilas Proposal yang disusun oleh pihak Penyelenggara, di mana pada bagian latar belakang kegiatan disebutkan bahwa setidaknya ada 2 hal yang menjadi faktor pendorong utama dari penyelenggaraan Seminar pada hari ini. Pertama, terkait dengan rencana Pemerintah yang secara bertahap akan mengurangi subsidi di bidang perumahan hingga tahun 2005 mendatang. Dan kedua, terkait dengan pelajaran berharga yang kita peroleh dari krisis di tahun 1997 lalu bahwa, adalah kurang bijak bila lembaga pembiayaan kita khususnya perbankan mempergunakan short-term loan untuk long-term investment. Kedua faktor tersebut, pada akhirnya bermuara pada satu kekhawatiran yang sangat rasional terhadap kelangsungan dari industri perumahan atau properti di tanah air.

Dalam kesempatan yang sangat terbatas pagi ini, Saya ingin bertukar wacana dan berbagi pemikiran dengan Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian di sini, mengenai beberapa issue seputar kedua faktor pendorong dari penyelenggaraan Seminar yang telah Saya sebutkan tadi. Mudah-mudahan apa yang akan utarakan nanti dapat mengenerate ide serta gagasan-gagasan konstruktif dalam rangka penemuan formula penyelesaian permasalahan di bidang pembiayaan perumahan yang sama-sama kita hadapi, sekaligus mengantarkan Seminar hari ini ke dalam suasana yang lebih aktif dan dinamis sebagaimana yang kita harapkan bersama.

 

Para Panelis dan Moderator, serta

Bapak-bapak dan Ibu-ibu peserta Seminar sekalian yang Saya hormati,

Bila kita sempat mencermati Struktur dan Profil Hutang Pemerintah posisi akhir 2001 lalu yang totalnya telah mencapai angka Rp.1401 triliun rupiah, maka kita akan segera memahami arti sekaligus implikasi dari keberadaan angka tersebut terhadap prospek atau wajah perekonomian Indonesia dalam waktu 5 (lima) tahun ke depan – atau mungkin lebih singkat lagi. Secara makro, angka tersebut memberikan tekanan yang sangat berat terhadap APBN dan Neraca Pembayaran. Pertumbuhan ekonomi masih relatif rendah, di mana secara akumulatif dalam kurun waktu 3 tahun – dari tahun 1998 sampai 2001 lalu – kita mengalami pertumbuhan negatif sebesar –4,12%. Dampak lanjutannya adalah upaya pemulihan ekonomi mengalami hambatan yang cukup signifikan, meningkatnya jumlah pengangguran, dan menurunnya kemampuan Pemerintah dalam memenuhi kepentingan masyarakat.

Bila tidak dilakukan pengelolaan secara serius dan hati-hati terhadap hutang Pemerintah tersebut, serta jika tidak segera ditemukan solusi yang tepat guna mengatasi permasalahan-permasalahan yang terkait dengan keberadaan hutang Pemerintah tersebut, bukan tidak mungkin jika krisis babak kedua yang mempunyai implikasi lebih serius dari apa yang telah kita alami selama 4 (empat) tahun terakhir ini akan terjadi kembali. Menyadari hal tersebut, maka Pemerintah khususnya para Menteri di bidang ekonomi beserta segenap jajarannya, termasuk Tim Ekonomi Pemerintah di bawah koordinasi Wakil Presiden yang baru terbentuk, berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya kekeliruan dalam pengelolaan hutang Pemerintah yang rasionya terhadap Produk Domestik Bruto kita telah mencapai 95% tersebut, antara lain dengan cara:

  • menerapkan disiplin dalam kebijakan fiskal dan moneter secara secara lebih berhati-hati;

  • mengakselerasi proses restrukturisasi perbankan dan hutang perusahaan;

  • meningkatkan koordinasi yang lebih konsisten dan bersifat sinergis antara Pemerintah, Bank Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat; serta

  • menjalin hubungan yang lebih konstruktif dan adil dengan para kreditur luar negeri, baik pada level bilateral maupun multilateral.

Dua metode pertama yang Saya sebutkan tadi, sangat disadari oleh Pemerintah akan mempunyai dampak terhadap iklim investasi bidang properti di tanah air. Bentuk kongkret dari dampak tersebut – sebagaimana disebutkan juga dalam proposal – adalah berupa pengurangan secara bertahap subsidi Pemerintah di bidang perumahan yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2005 nanti. Pemerintah sangatlah memahami bahwa kebijakan tersebut adalah suatu pilihan yang cukup dilematis. Di satu sisi, hal tersebut adalah kurang populer khususnya dari perspektif pelaku bisnis maupun masyarakat. Namun di sisi lain, keputusan untuk mengurangi subsidi Pemerintah di sektor properti tersebut – termasuk di sektor lainnya yang lebih sensitif seperti pengurangan subsidi Pemerintah terhadap BBM – adalah salah satu metode pengobatan yang meski pahit atau bahkan sedikit menyakitkan pada awalnya, tetap harus diberikan guna mencegah lebih memburuknya keadaan. Kebijakan tersebut tidak lagi bersifat optional, tetapi sudah menjadi suatu keharusan. Disinilah diperlukan adanya semangat pengorbanan dan keiklasan dari kita semua, untuk menerima kenyataan tersebut guna menyongsong hari esok yang kita harapkan lebih membawa pencerahan serta mampu membangkitkan kembali optimisme kita bersama.

Para Panelis dan Moderator, serta

Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian yang Saya hormati,

Kembali kepada faktor pendorong kedua dari penyelenggaraan Seminar hari ini yang sempat Saya singgung di muka, yakni adanya mismatch di bidang pembiayaan perumahan berupa penggunaan sumber dana jangka pendek untuk keperluan jangka panjang, yang sadar tidak sadar telah kita terapkan selama ini. Dan Saya yakin Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian disini telah memahami bahwa, selain maturity mismatch tersebut, sebenarnya pelaku bisnis kita juga telah mengalami dan menerapkan pula mismatch atau kekeliruan yang kedua, yakni currency mismatch, khususnya untuk sumber pendanaan dalam denominasi mata uang asing. Double mismatches tersebut, ditambah kekurangpedulian kita selama ini untuk menerapkan good corporate governance principles, telah disepakati oleh berbagai studi yang dilakukan baik oleh lembaga riset lokal maupun internasional sebagai 2 kekeliruan utama yang sangat mempengaruhi ketahanan ekonomi negara kita, dalam mencegah efek domino dari krisis keuangan regional di tahun 1997 lalu, sekaligus meningkatkan derajat kesulitan bagi kita untuk segera keluar dari belitan krisis tersebut.

Baik maturity mismatch maupun currency mismatch tadi, memberi pelajaran yang sangat berharga kepada kita mengenai perlunya dilakukan pengelolaan terhadap resiko atau risk management secara terencana dan terprediksi, apapun bentuk atau format investasi yang kita lakukan. Currency mismatch mungkin bisa dihindari dengan menggunakan instrumen hedging dan variannya yang kini semakin lazim dipraktekan dan semakin dipahami rasionalitasnya untuk diterapkan oleh para pelaku bisnis. Sedangkan salah satu cara untuk meminimalisir resiko dari maturity mismatch dengan melakukan sekuritisasi terhadap asset yang kini telah semakin populer dan menjadi pilihan utama di beberapa negara untuk menutup kekurangan industri perbankan dalam memberikan fasilitas pembiayaan kepada dunia usaha atau segmen bisnis tertentu yang membutuhkannya. Dan terkait dengan materi utama Seminar hari ini, yakni seputar mortgage, sangat ada relevansinya jika Saya utarakan di sini bahwa sejak tahun 90-an, industri mortgage di Amerika Serikat telah mencapai nilai di atas 50% dari Gross National Product negara adi daya tersebut. Dengan kata lain, instrumen investasi tersebut ternyata dapat diandalkan dalam membangkitkan perekonomian negara tersebut.

Berbicara tentang industri mortgage di Amerika Serikat, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan 2 (dua) lembaga mortgage terkemuka di sana, yakni the Federal National Mortgage Association yang dikenal dengan sebutan ‘Fannie Mae’, dan the Federal Home Loan Mortgage Corporation yang juga punya nama populer: ‘Freddie Mac’. Kedua lembaga inilah yang mendorong pertumbuhan industri mortgage di Amerika hingga mencapai level yang sangat fantastis hingga saat ini.

Fannie Mae, yang didirikan pada tahun 1938 atas inisiatif pemerintah tersebut mempunyai kerangka hukum yang sangat kukuh, yakni National Housing Act. Sebelum dikenal dengan sebutan populer ‘Fannie Mae’, organisasi tersebut secara kelembagaan dikenal sebagai the National Mortgage Association of Washington, sebelum akhirnya dipecah 2 menjadi ‘Fannie Mae’ dan ‘Ginnie Mae’. Fannie Mae, yang sahamnya telah dicatatkan dan ditransaksikan di Bursa Efek New York mempekerjakan lebih dari 1000 karyawan dan mempunyai klien tidak kurang dari 3500 nasabah kelembagaan. Lembaga mortgage yang berkantor pusat di Washington, DC. dan berada di bawah pengawasan the Secretary of Housing and Urban Development tersebut, sebagian dari direksinya dipilih langsung oleh Presiden Amerika Serikat. Hampir sama dengan Fannie Mae, Freddie Mac yang didirikan pada tanggal 24 Juli 1970 juga mempunyai dasar hukum yang kukuh berupa the Emergency Home Finance Act, dan kepengurusannnya dikelola oleh lembaga direksi yang berasal dari anggota the Federal Home Loan Board.

Tujuan Saya dalam mengintrondusir secara singkat keberadaan industri mortgage di Amerika tersebut tidak lain hanya untuk menunjukkan bahwa industri tersebut – jika dimanfaatkan secara optimal – akan dapat diandalkan untuk mendorong laju roda perekonomian suatu negara. Tidak terkecuali di Indonesia. Pertanyaan yang mungkin masih mengganggu kita adalah, “mengapa instrumen tersebut tidak populer atau bahkan kurang gencar dipopulerkan di Indonesia?”. Saya tidak akan menyinggung lebih teknis lagi mengenai hal tersebut. Selain memang bukan dalam kapasitas Saya untuk mengelaborasinya lebih lanjut dalam kesempatan yang sangat terbatas ini, juga karena Saya sangat berkeyakinan bahwa forum terhormat hari ini – yang telah mengagendakan materi seminar dengan sangat sistematis dan komprehensif, didukung pula oleh keberadaan beberapa nara sumber yang sangat berkompeten dan mempunyai peran strategis terhadap eksistensi industri mortgage di tanah air – akan mengupas permasalahan maupun potensi permasalahan yang dihadapi dari berbagai sudut pandang, sekaligus mampu pula menghasilkan resolusi kongkret yang disepakati urgensi dan relevansinya oleh pelaku bisnis mengenai arah pengembangan industri mortgage nasional di masa mendatang.

Satu hal yang mungkin perlu kembali Saya utarakan di sini adalah, belajar dari pengalaman serupa di negara lain khususnya di Amerika Serikat, kerangka hukum yang kukuh guna menunjang keberadaan industri ini, serta penyikapan yang bersahabat terhadap pasar dari Pemerintah – baik selaku inisiator, regulator, fasilitator sekaligus dinamisator dari industri ini – adalah syarat mutlak untuk mengembangkan industri mortgage di tanah air. Dan tidak kurang pentingnya adalah peran serta dan integritas dari pelaku bisnis yang langsung atau tidak langsung terlibat di dalamnya seperti lenders, mortgage bankers, mortgage company, serta pemodal yang berkecimpung di dalamnya – dalam kapasitasnya masing-masing – akan menjadi faktor kunci pula dalam mengembangkan industri tersebut di masa-masa selanjutnya.

Akhirul kata, perkenankan Saya ucapkan terima kasih kepada PT Infomediatama Selaras yang telah menggagas penyelenggaraan Seminar hari ini. Saya ucapkan pula sekali lagi terima kasih atas kehormatan dan kesempatan yang telah diberikan kepada Saya untuk menyampaikan Sambutan dalam forum terhormat ini.

Selamat berdiskusi, Semoga Allah Swt. merestui niat baik dan ketulusan kita semua. Amin.

Wabillahitaufiq walhidayah, Wassalammualaikum Wr. Wb.,

 

Jakarta,  19 Maret 2002.

 

H e r w i d a y a t m o

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal

selaku Pjs. Dirjen Lembaga Keuangan

 

 

 

 

 


Terms and conditions. Copyright (c) 2002. Webmaster Bapepam.

Gedung Baru Depkeu RI Lt 4. Jl Dr Wahidin Raya Jakarta 10710
Phone : 021 3858001  Fax : 021 3857917
E-mail :
bapepam@bapepam.go.id