Pidato
Welcome to Bapepam online

ENGLISH I sitemap I search I pertanyaan

.
statistik mingguan pasar modalperaturan Bapepamdatabase Bapepame-Report Pasar Modalhome

 

 

 

 

 

Pidato

 

SAMBUTAN KETUA BAPEPAM
Pada Acara :

BINCANG-BINCANG DAN DISKUSI PEREKONOMIAN NASIONAL
DAN PASAR MODAL TAHUN 1999 DENGAN APEI

13-1-1999

 

1. Perkembangan Bursa Awal Tahun 1999.

Berdasarkan transaksi-transaksi yang terjadi pada.minggu pertama awal tahun 1999, perkembangan Pasar Modal telah menunjukkan adanya kenaikan IHSG yang cukup berarti. Hal ini, tentunya akan dapat memberikan kegembiraan kepada para pelaku pasar dan investor.

 
2. Perlu adanya revisi terhadap Cetak Biru Pasar Modal Indonesia.

Dengan melihat perkembangan ekonomi dan lingkungan bisnis yang terjadi pada dua tahun terakhir ini, Kita melihat bahwa segala perencanaan yang telah kita susun sebelumnya perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Oleh sebab itu, Cetak Biru Pasar Modal Indonesia yang telah disusun pada tahun 1996 yang berisi mengenai Rencana Pengembangan Lima Tahun (1996-2000), telah mengalami ketidaksesuaian dengan paradigma-paradigma baru atau asumsi dasar perkembangan makro ekonomi yang terjadi pada akhir-akhir ini.

Sebagai contoh :
 
 
a. Asumsi dasar, mengenai target pertumbuhan ekonomi yang mendekati 8% per tahun selama periode tahun yang akan datang. Hal ini telah sangat berubah dalam perkembangannya sekarang ini.
 
b. Target yang ingin dicapai pada tahun 1996 dan tahun 1997, dimana dinyatakan bahwa : perdagangan tanpa warkat dan penyelesaian transaksi melalui pemindahbukuan sudah akan beroperasi. LPP harus sudah mampu menyelesaikan jasa kustodian secara penuh. Target ini sampai dengan akhir tahun 1998 ternyata belum terealisir.

 
3. Pelaku bursa diharapkan proaktif mengantisipasi arah perubahan global, sehingga mampu untuk memperkuat pasar modal nasional.

Adanya krisis keuangan Asia yang telah menjalar dan berpengaruh menjadi krisis global, hal ini telah membuat beberapa negara maju (G-7) maupun beberapa kelompok negara lain (G-22) untuk bersama-sama memikirkan langkah-langkah yang strategis untuk mengatasi dampak yang lebih buruk dari krisis tersebut. Masalah menciptakan stabilitas keuangan telah menjadi fokus pembicaraan dalam berbagai forum pertemuan internasional, seperti di APEC dan ASEAN. Dalam kaitan ini, untuk menciptakan keyakinan bahwa proses pemulihan ekonomi di negara Asia Pasifik dan memperkuat fundamental ekonomi di negara-negara tersebut, tentunya diperlukan langkah-langkah strategis untuk mencapai hal itu.

Oleh sebab itu, para pelaku bursa perlu menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dengan mempersiapkan beberapa hal sebagai berikut : Human Resources Development; Skills Development, Technological Upgrading, Infrastructure Improvements.

Dengan kesiapan ini diharapkan perusahaan-perusahaan efek akan lebih kuat organisasinya, yang pada gilirannya akan memperkuat pasar modal Indonesia dalam menghadapi liberalisasi perdagangan dan arus modal swasta.

 
4. Masalah Corporate Governance.

Selanjutnya, daam beberapa forum pertemuan kenegaraan internasional, para participants menyadari dan memahami bahwa salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya krisis di kawasan Asia belakangan ini adalah kurangnya kerangka konseptual atas corporate Governance pada negara-negara di kawasan tersebut. Kurangnya kerangka konseptual atas corporate governance tercermin pada :

 
a. Pelaporan kinerja keuangan dan kewajiban-kewajiban kredit yang masih sangat minim/ terbatas.
 
b. Kurangnya pengawasan terhadap manajemen oleh komisaris dan auditor.
 
c. Kurangnya insentif pasar ekstemal untuk mendorong terciptanya efisiensi atas dasar persaingan pasar modal dan barang jadi (produk)
 

Kurangnya kerangka konseptual atas corporate governance pada negara-negara di kawasan Asia tersebut berakibat kurangnya informasi yang tersedia bagi analisa resiko/ hasil, investasi yang berlebih pada sumber daya yang tidak produktif sehingga kepercayaan pasar menjadi hilang.

Sebagai upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, Bank Dunia melakukan serangkaian inisiatif untuk memperkuat sektor perusahaan dengan cara melakukan reformasi terhadap corporate governance melalui : privatisasi, pengembangan pasar modal, dan kebijakan persaingan. Penerapan kebijakan corporate govemance akan menciptakan insentif internal yang efektif bagi manajemen perusahaan dan penggunaan sumber daya yang efisien, sehingga mendorong terbentuknya kepercayaan investor, dan masuknya arus modal yang mendorong pulihnya perekonomian baik secara makro maupun mikro.

Berdasarkan laporan yang dibuat oleh Organization for Economic Cooperation and Development-OECD, pada bulan April 1998, organisasi tersebut telah melakukan pengkajian terhadap prinsip-prinsip utama corporate governance yang memfokuskan pada empat aspek penting yaitu:

 

a. Fairness bagi pemegang saham minoritas, yaitu dalam rangka melindungi dari kecurangan, atau praktek-praktek insider yang merugikan.
 
b. Transparancy melalui peningkatan disclosure dengan cara penyampaian informasi kinerja perusahaan yang akurat dan tepat waktu.
 
c. Accountability manajemen melalui pengawasan efektif yang mendasarkan pada keseimbangan kekuasaan antara direksi, pemegang saham, komisaris dan auditor.
 
d. Responsibility (tanggungj awab) perusahaan sebagai bagian dari masyarakat wajib mematuhi hukum dan undang-undang yang berlaku.


Berkaitan dengan hal tersebut, perusahaan efek khususnya penjamin emisi serta profesi penunjang pasar modal diharapkan dapat lebih berperan dalam meningkatkan transparansi para calon-calon emiten. Dengan ketentuan yang lebih baik dan tersedia bagi pemodal, hal ini akan menarik minat investor untuk kembali berinvestasi di Bursa Indonesia.

 

5. Kesimpulan

Para perusahaan efek diharapkan lebih proaktif dalam mengantisipasi arah perkembangan makro ekonomi global, dengan cara : meningkatkan sumber daya manusia, mengembangkan keahlian individu masing-masing, dan memperbaiki infrastruktur perusahaan. Hal-hal tersebut akan membuat organisasi dan manajemen perusahaan efek lebih tangguh menghadapi permasalahan-permasalahan yang terjadi, sehingga pada gilirannya hal ini akan memperkuat pasar modal nasional.

Kedewasaan dan peningkatan profesionalisme para pelaku pasar modal diharapkan akan menciptakan kemandirian dalam mengembangkan usahanya. Sehingga setiap gerak langkah dan usaha yang dilakukan lebih diarahkan secara bersama-sama untuk membantu menciptakan pengembangan pasar modal nasional yang lebih transparan dan efisien yang mampu menarik para investor baru, bukannya untuk saling merugikan sesama anggota bursa.

 

 
 

 

 

 


Terms and conditions. Copyright (c) 2002. Webmaster Bapepam.

Gedung Baru Depkeu RI Lt 4. Jl Dr Wahidin Raya Jakarta 10710
Phone : 021 3858001  Fax : 021 3857917
E-mail :
bapepam@bapepam.go.id